Perjalanan Seorang Bintang (2)

Beberapa siswa SMA Satria berkumpul di depan madding, heboh dengan berita baru.

“ Gila!gue ga nyangka dia seperti itu ”

“ Padahal dia pinter, selalu dapet beasiswa tapi sifatnya lebih keji dari binatang!” Kata salah seorang siswa

“ L uarnya aja kalem, baik. Tapi dalemnya busuk! ”

Tak berapa lama Diaz datang. Ia heran melihat anak-anak berkerumun di depan mading. Karena penasaran, ia segera ikut nimbrung

“ Temen-temen misi, ni udah datang srigala berbulu dombanya ! ” Seru salah seorang siswi. Lalu mereka pergi menghindari Diaz. Kaget setengah mati, foto mirip dirinya yang sedang bermesraan dengan seorang laki-laki.

“ Gak, ini gak mungkin ” Katanya tak percaya. Ia pergi menahan malu atas perbuatan yang tak pernah di lakukannya. Ia langsung menghambar memeluk Risa dan Digta di kelas. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Cerpen | Tag | Meninggalkan komentar

Perjalanan Seorang Bintang (1)

By : Linda Dzatalini

“APA?!!saya mendapat beasiswa selama saya sekolah disini??” Diaz kaget, salah seorang murid SMA Satria, ketika menghadap kepala sekolah

“Ya benar. kamu berhak mendapatkan itu semua karena kamu pintar, rajin juga sopan terhadap semua orang. Diaz, buatlah bangga orang tuamu dengan apa yang kamu miliki. Raihlah cita-citamu agar orang tuamu bangga padamu” Papar bapak kepala sekolah ramah

“Baik pak saya akan buat ibu saya bangga” Kata Diaz yakin

“Ok sekarang kamu boleh kembali ke kelas”

“Baik pak.permisi ” Pamit Diaz

Sepulang sekolah, Diaz langsung pergi ke warteg untuk membantu ibunya.

“Kamu sudah pulang, nak? ” Tanya ibu Diaz sembari mengulurkan tangannya dan disambut oleh tangan Diaz Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Cerpen | Tag | Meninggalkan komentar

Rindu dalam Hujan (2)

Tiga bulan telah berlalu

Pagi itu Zera memilih mengurung diri di kamarnya, dia memandang halaman belakang lewat jendela kamarnya,memandang derasnya hujan yang sedari tadi tak kunjung reda.Zera tersenyum saat memandang ribuan tetes hujan yang jatuh seperti hujaman peluru tanpa henti. Sejak kecil Zera memang sangat senang melihat hujan.Ia teringat kata-kata yang selalu dia katakan pada kakaknya.

“Hujan itu bisa bikin hati kita damai. Bisa mengisi kahampaan hati kita dengan suaranya yang deras itu. Buat ku hujan juga dapat menenangkan hati kita saat masalah datang tak kunjung henti. Layaknya debu yang berserakan diatas tanah yang dapat hilang dan bersih data hujan itu mengguyurnya.” Tutur Zera pada Tasya sembari hujan-hujanan. Namun, itu hanya mengingatkanya pada kenangan pahit masa lalu.

“Mamah… kak tasya… kalian dimana? Apakah kalian masih hidup? Zera kangen banget sama kalian. Zera pengin ketemu kalian.” Ucap Zera seraya menangis.Tanpa di sadarinya,bibir mungilnya mendendangkan satu lagu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Cerpen | Tag | Meninggalkan komentar

Rindu Dalam Hujan (1)

Oleh :  Firkotun Najiah

“Iihhh sebel, jangan curang dong mainnya. Masa kayak gini sih?” Pekik Zera tak terima pada kakaknya.

“Yeee emang kayak gini kali mainnya. Kalau kalah ya udah nggak usah pake alesan curang segala. Huh dasar.” Balas Tasya tak mau kalah. Kala itu kakak beradik sedang asyik bermain catur. Tasya adalah kakak kandung Zera.

“Ada apa sih? Kok anak mamah pada berantem gitu ?” Suara lembut Sang Ibu terdengar lembut di telinga mereka. Sontak merekapun menoleh kearah sumber suara.

“Tidak baik lho kakak beradik saling berantem kayak gitu. Seharusnya itu kalian saling menjaga dan menyayangi satu sama lain” Lanjut Bu Syifa seraya mendekati kedua putrinya.

Bu syifa adalah Ibunda Tasya dan Zera. Dia sudah lama hidup bertiga dengan kedua putrinya, sedangkan ayah mereka, suami bu Syifa telah lama meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang ketika menuju Sumatera.

Setelah lama berbincang-bincang tiba-tiba bu Syifa mengeluarkan tiga buah kotak kemudian di sodorkannya pada ke dua anaknya itu.

“Ini untuk Zera dan ini untuk Tasya” Ucap sang Mamah seraya menyodorkan kotaknya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Cerpen | Tag | Meninggalkan komentar